Selasa, 15 Agustus 2017

Inspirasi Bisnis Jualan Dengan Mobil Pick Up Pekanbaru

Inspirasi Bisnis Jualan Dengan Mobil Pick Up Pekanbaru - Mobil Pick Up memang sarana penunjang terbaik untuk berbisnis. Banyak hal yang bisa dilakukan mobil ini. Misalnya membawa bermacam-macam benda maupun makanan. Nah, untuk itulah mobil ini cocok untuk berjualan. Misalnya jenis-jenis di bawah ini. Nah, untuk itulah kali ini ane mau memberikan inspirasi jenis-jenis jualan yang bisa dilakukan mobil pick up. Silahkan disimak.

Jasa Angkut

Ini yang paling umum digunakan gan. Sebab tak jarang loh orang yang butuh jasa angkut untuk barang-barang mereka, misalnya saat pindahan rumah, pindah kos, beli peralatan gede macam kulkas, :f bahkan saat beli barang pecah belah seperti kaca.

umayan sekali bila mobil pick up agan bisa disewakan untuk Jasa Angkut. Maklum, Rp. 150 ribu sehari loh gan. Tergantung jauh dekatnya juga.

Distribusi Buah

Paling mudah dan paling menguntungkan. Tidak usah banyak pertimbangan dan modal besar. Cukup dengan membeli buah di tempat-tempat yang murah di daerah agan. Misalnya durian, rambutan, jeruk, salak, ataupun jambu. Pasti lakunya loh gan.

Sayangnya, distribusi buah ini juga dibarengi dengan resiko yang tak kalah besar juga. Dengan untung yang tak seberapa, (apalagi kalo yang beli ibu-ibu, banyak nawarnya :O ) agan harus pandai-pandai menjual buah yang menguntungkan dan bisa habis seketika.

10 ribu 3

Kalau ingin membuka sepuluh-ribu-tiga ini, agan harus tau terlebih dahulu dimana tempat memasok barang. Kemudian jual dengan harga pasti juga sekaligus sedikit miring dari harga pasar.
Dijamin deh, keuntungan bersih per hari bisa mencapai Rp. 100 sampai 150 ribu loh. :@ Tapi ingat gan, itu pun bila tempat agan berhenti strategis dan dekat dengan pembeli.
Es Krim Cone Keliling

Bila agan ingin merambah ke pasar anak muda, rasanya bisnis es krim cone keliling di mobil pick up akan sangat menggiurkan.

Yang penting es krim agan mempunyai branding yang menarik dan ditempatkan di tempat yang berada di pusat berkumpulnya anak muda. Misalnya lingkungan kampus, di taman kota, ataupun saat car free day (CFD). :D

Ember dan Alat Rumah Tangga, Peralatan Dapur Keliling

Nah, kalau untuk berjualan alat-alat ini, maka agan sebisanya harus menjaring penjual dengan berkeliling diiringi promosi yang menggiurkan. Sebab tak bisa dipungkiri, konsumen utama penjualan alat-alat rumah tangga adalah ibu-ibu. Dengan mendekat ke arah mereka, insyaAllah akan membukakan jalan rezeki bagi agan.

Pulsa dan Cellular

Sekarang banyak nih yang membuka counter pulsa dan kartu seluler dengan pick up. Disamping tak perlu tempat yang menetap, tempat bisnisnya bisa diputar kemanapun agan mau. Misalnya kampus, sekolah, keramaian, atau pinggir jalan.

Pokoknya pasti laku asalkan agan rajin dan stok kartu seluler sampai aksesoris handphonenya lengkap. :D

Pecah Belah

Terakhir, barang pecah belah kini juga banyak ditemui dengan menggunakan pick up. Sebab, banyak orang yang terlalu sungkan bila ingin membeli perabotan pecah-belah di swalayan atau mall.

Biasanya pembeli yang membeli dagangan agan akan mengharapkan proses jual-beli yang praktis, barang yang bagus dilihat dari jauh, maupun harga yang miring.  Jadi jangan kecewakan ekspektasi mereka ya gan.
Read more ...

Bisnis Usaha Jam Selai Homemade Pekanbaru Riau

Bisnis Usaha Jam Selai Homemade Pekanbaru Riau - Banyak ahli wirausaha yang mengatakan bahwa kuliner adalah usaha yang paling menjanjikan. Namun, usaha dalam bidang kuliner tidak selalu mengharuskan seseorang membuka restoran atau kafe. Jika Anda gemar memasak, Anda bisa menjual produk makanan atau minuman homemade seperti yang dilakukan pasangan suami istri, Irfan dan Indira, pendiri usaha selai buatan rumah bernama Yum Spread.
Jika selama ini selai identik dengan buah-buahan, pasangan yang sama-sama gemar masak dan makan itu mempunyai ide untuk meracik berbagai varian selai unik yang lain dari pada yang lain mulai dari selai Luscious Lemon, Oreo Spread, Creamcheese Snickers, Speculoos Spread, Creamcheese Garlic, Creamcheese Matcha hingga Caramel Latte.

Diawali dengan keisengan membuat selai yang tak bisa ditemukan di pasaran untuk konsumsi pribadi, usaha tersebut pun kian berkembang setelah berjalan kurang lebih selama satu tahun.

"Kebetulan kita suka selai terus kita coba-coba resep dari internet dan ternyata enak. Sehabis itu kita coba improve resepnya terus kepikiran juga mencoba membuat beberapa selai seperti Oreo," ujar Irfan saat ditemui VIVA.co.id di kediamannya beberapa waktu lalu.

Mereka lantas berpikir untuk menjual selai-selai buatan mereka pada bulan Juni 2014 lalu. Keputusan itu juga didasari oleh kebiasaan buruk orang yang sering melewatkan sarapan di pagi hari, mungkin karena padatnya aktivitas atau bosan dengan menu yang itu-itu saja.

"Kita membuat selai ini agar orang semangat sarapan. Ada banyak pilihan rasa dan praktis tinggal oles. Penggunaannya juga luas tidak hanya untuk roti saja," kata Indira.

Saat pertama kali membuka usaha, keduanya baru menjual empat varian selai yaitu selai lemon, Oreo, Snickers dan pisang. Setelah itu secara bertahap diluncurkan beberapa varian selai lainnya. Berbekal modal kurang lebih Rp2 juta, setelah setahun berjalan usaha ini telah berhasil menjual ribuan selai dan menghasilkan omset yang lumayan yaitu sekitar Rp20 juta hingga Rp30 juta per bulan.

Irfan yang berprofesi sebagai programmer mengatakan modal yang dikeluarkan terbilang sedikit karena ia sendiri lah yang membuat website resmi usahanya. Sedangkan sang istri yang dulunya adalah seorang dokter gigi telah memutuskan untuk benar-benar fokus menjalani usaha selai ini.

Tentu saja Irfan dan Indira juga menemui beberapa kesulitan saat menjalankan usaha mereka mulai dari soal produksi, penjualan hingga pemasaran.

"Dulu pertama kali kami mengeluarkan selai pisang dengan gula merah. Sebenarnya enak tapi masalahnya terletak pada bahan bakunya. Sulit untuk menciptakan cita rasa yang konsisten karena tergantung pada matang atau tidaknya pisang yang digunakan. Akhirnya kami memutuskan untuk berhenti menjual varian tersebut," jelas Irfan.

Indira pun menambahkan bahwa untuk membuat selai pisang tadi, pembeli harus menunggu selama setidaknya dua hari untuk menunggu buah pisang yang akan digunakan matang bahkan ke arah benyek.

Selain itu, ada pula kendala lain dalam hal bahan baku salah satu varian selai mereka yaitu Creamcheese Matcha. Menurut ibu satu anak itu, mereka sempat kesulitan mencari bubuk matcha atau teh hijau yang pas untuk digunakan dalam resep selai setelah kehilangan supplier. Kesulitan lainnya mengenai pengiriman produk yang harus dilengkapi dengan pengaman agar tidak pecah.

Lalu varian selai apa yang paling disukai pembeli?

Ternyata selai Oreo Spread, Creamcheese Garlic dan Creamcheese Matcha menjadi tiga selai yang paling cepat ludes diborong pembeli. Walaupun biasanya disantap bersama roti tawar atau roti panggang, namun Irfan mengatakan selai Yumspread juga cocok untuk dioles pada pancake, crackers hingga martabak. Bahkan selai juga bisa dibuat milkshake lezat hanya dengan menambahkan susu dan es.

Ke depannya, Irfan mengungkapkan akan meluncurkan beberapa varian selai dengan rasa baru. Ada pun rencana untuk mengeluarkan edisi premium yang ukurannya lebih besar dengan packaging yang lebih cantik. Bahan-bahan yang digunakan juga terpilih dan lebih berkualitas.

Untuk saat ini, ketujuh varian selai Yumspread bisa didapatkan baik secara online melalui situs resmi dan akun Instagram mereka, maupun offline dengan harga Rp35-Rp59 ribu per stoples.

"Kita sering ikut bazar juga karena kalau mengandalkan penjualan online saja kurang optimal," tambah Irfan.

Ia juga tengah mengurus birokrasi di Departemen Kesehatan agar selai-selainya nanti dijual di supermarket dan hotel. Meski begitu, mereka juga telah menyuplai beberapa varian selai mereka ke sebuah kafe.

"Ada empat varian selai kita yang masuk ke kafe untuk dibuat menu roti bakar," ujar Irfan. Sumber :viva.co.id
Read more ...

Inspirasi Bisnis Tela Krezz Pekanbaru Riau Menggiurkan

Inspirasi Bisnis Tela Krezz Pekanbaru Riau Menggiurkan - Singkong sering dianggap sebelah mata oleh banyak orang. Orang beranggapan usaha singkong tak akan layak dan mendatangkan keuntungan yang kecil. Namun tidak bagi Firmansyah Budi Prasetyo. Dengan krativitasnya, singkong yang selama ini dianggap sepele bisa mendatangkan usaha dengan omzet milyaran rupiah.

Pemuda yang sering di panggil Firman ini telah berhasil mengembangkan usaha singkong yaitu berupa panganan. “Semula dari keyakinan Saya bahwa singkong bisa mendatangkan usaha yang besar,” ujar Firman. Pemuda 26 tahun asal Yogyakarta ini melihat potensi singkong untuk dikembangkan sangat besar. Singkong yang mudah diperoleh karena ditanam hampir di wilayah Indonesia menjadi alasan kuat untuk menjalankan usahanya.

Usaha panganan yang diberi nama Tela Krezz ini mulai dikembangkan pada tahun 2006. Firman mengawali usaha dengan menggunakan gerobak, bekas usaha gorengan ibunya. Gerobak tersebut dilengkapi peralatan masak dan dibuat layaknya dapur rumah. Pada waktu itu pun dia hanya merekrut seorang karyawan. “Awal usaha Saya pakai gerobak milik ibu, dan karyawan Saya hanya satu, seorang pembantu yang sering membantu ibu di rumah,” kenangnya.

Firman memulai usaha dengan modal sebesar Rp 3 juta. Dengan tekun dan cermat dia menjalankan usahanya. Hampir semua panganan yang dibuat berbahan dasar dari singkong. Panganan singkong digoreng dan dibuat berbalok-balok sebesar jari kelingking. Kemudian panganan tersebut diberi racikan bumbu khusus sehingga singkong yang umumnya keras bisa menjadi sangat empuk dan renyah seperti kentang.

Karena empuk dan renyah itulah kata ”Krezz” di masukkan dalam merek usahanya. Agar membuat lidah pembeli bergoyang, pemuda lulusan Universitas Gadjah Mada ini juga memberi cita rasa pada panganan tersebut. Awalnya hanya beberapa macam rasa yang dibuat, namun sampai saat ini sudah terdapat 14 jenis rasa yang bisa dirasakan antara lain yaitu BBQ, ayam, keju, pizza, pedas, garlic, balado, jagung, black pepper steak, dan beberapa rasa lainnya. Jika Anda ingin menikmati Tela Krezz, Anda cukup membayar Rp 3.000 per porsi.

Berkat sebuah ketekunan, usaha Firman yang semula beromzet Rp 3 juta per bulan terus berkembang dan akhirnya hingga kini bisa meraup omzet sekitar Rp 2 milyar per tahun. Karyawan yang bekerja saat ini pun telah mencapai 12 orang. Dengan semakin melesat perkembangan usahanya, Firman tak hanya tinggal diam, jiwa wirausaha Firman tergoda untuk mencoba peruntungan di usaha lain. Di bawah bendera Homygroup, Firman telah merambah ke usaha binatu, restoran steak, dan chicken chick’s.
Konsep Franchise. Berkembangnya Tela Krezz hingga beromzet milyaran rupiah, tak lepas dari ide Firman untuk mengadopsi konsep usaha waralaba (franchise). Hingga kini usaha anak sulung dari tiga bersaudara ini telah mempunyai 80 cabang atau lebih dari 300 outlet yang tersebar di berbagai daerah seperti Bali, Lombok, Balikpapan, Bandung, Banjarmasin, Bandar Lampung, Banggai, Batam, Bekasi, Berau, Bojonegoro, Bontang, Blitar, Cilacap, Demak, Gianyar, Gorontalo, Jakarta, Jember, dan lain-lain.

Tak sulit untuk bergabung dan bekerjasama dengan usaha ini. Jika Anda ingin membuka outlet Tela Krezz, Anda cukup menyediakan dana Rp 3,5 juta hingga Rp 6 juta. Ada dua jenis kemitraan yang disajikan dan bisa Anda pilih, yang pertama disebut Mitra Standar, artinya Anda harus berinvestasi sebesar Rp 3,5 juta sampai Rp 4,5 juta, dengan masa kontrak 5 tahun beserta Franchise Fee untuk 3 tahun.

Kemudian ada yang disebut Mitra Eksklusif yaitu Anda harus berinvestasi sebesar Rp 5 juta sampai Rp 6 juta, dengan masa kontrak 5 tahun beserta Franchise Fee untuk 5 tahun dengan garansi uang kembali plus bonus active income ( pendapatan dengan merekrut mitra secara aktif ) dan passive income ( pendapatan karena mencapai tahap tertentu ). Selain dalam bentuk outlet, Anda juga bisa menjalin mitra dalam bentuk agen. Untuk menjadi agen, Anda harus menyediakan dana sebanyak Rp 12 juta hingga Rp 15 juta, sesuai dengan lokasi dan memenuhi syarat-syarat yang telah ditentukan.

Untuk bahan baku singkong ternyata tidak dikirim dari pusat, namun singkong diperoleh dari wilayah masing-masing outlet. Hal ini sebagai pertimbangan agar menghemat biaya transportasi sehingga harga Tela Krezz bisa dijangkau oleh pembeli. Dalam memilih singkong, setiap outlet akan diberi pelatihan tentang cara memilih singkong yang baik. Ini dilakukan oleh tim yang didatangkan dari pusat. Setiap wilayah umumnya membutuhkan 300-500 kg singkong per hari. Singkong dengan kebutuhan tersebut bisa menghasilkan hingga 2.000 porsi Tela Krezz. Untuk bumbu rasa dan bumbu pembuat empuk dan renyah singkong masih di datangkan dari pusat yang berada di Wirobrajan, Yogyakarta.

Prestasi Besar. Keberhasilan mengembangkan usaha panganan singkong tentu sebuah prestasi tersendiri bagi Firman. Selain bermanfaat bagi diri sendiri, tentu juga bermanfaat bagi orang lain yaitu telah mampu menciptakan lapangan pekerjaan. Berkat usahanya dalam memberi nilai jual terhadap singkong, tahun 2007 Firman menyabet penghargaan UKM Award dari Kementerian Negara Urusan Koperasi dan UKM. Kini, Firman pun telah mampu mendirikan beberapa UKM binaan di daerah asalnya.

Dia berharap UKM binaannya bisa berkembang dan tentunya bisa menciptakan lapangan kerja bagi orang lain. ”Penghargaan dari pemerintah patut Saya syukuri, namun menciptakan lapangan pekerjaan untuk orang lain dan membuat usaha yang selama ini dianggap sepele kemudian bisa besar itu sudah menjadi prestasi buat Saya,” katanya.

Obsesinya tidak hanya berhenti begitu saja. Untuk terus mengembangkan usahanya, berbagai inovasi produk dan manajemen telah dilakukan. Dalam inovasi produk, dia telah membuat beberapa produk baru seperti Tela Lapizz, Tela Bola, Tela Bolo-Bolo, dan Tela Jana. Sistem manajemen pun diperbaiki agar kinerjanya semakin hari semakin baik. Sekarang ini Firman juga sedang berusaha branding nasional melalui iklan dan pameran.

Ini dilakukan untuk memperkenalkan Tela Krezz hingga ke seluruh penjuru tanah air. Selain itu, dia juga telah melakukan kerjasama dengan beberapa minimarket seperti Alfamart dan Indomart, jadi apabila Anda ingin menikmati panganan ini, bisa membeli produknya dalam bentuk kemasan di sana.

Usaha yang kebanyakan orang anggap kecil ternyata bisa diubah menjadi besar dengan tangan-tangan kreatif. Semua tergantung keberanian seseorang dalam mengambil keputusan untuk menjalankan usaha tersebut atau tidak. ”Jika kita hanya sekedar mengetahui sesuatu tanpa kita menjalankan, itu berarti kita sama sekali ngga ngerti.

Artinya banyak teman-teman yang tahu ada usaha yang menarik tetapi takut untuk menjalaninya, berarti teman-teman bisa dikatakan tidak mengerti sama sekali usaha itu. Tak perlu takut untuk menjalani usaha, asal kita yakin dan selalu memperbaiki satu demi satu kekurangan yang ada, Insya Allah bisa sukses kok,” tambah Firman. Sumber : misteergalih.wordpress.com
Read more ...

Bisnis Usaha Bahan Bangunan Pekanbaru Riau

Bisnis Usaha Bahan Bangunan Pekanbaru Riau - Pengembangan industri bata ringan di Indonesia Timur terbuka luas, bahkan pendirian dua atau tiga pabrik lagi diperkirakan masih kurang untuk dapat memenuhi permintaan pasar yang terus meningkat.
Joko Purwanto General Manager PT Viccon Modern Industry mengatakan sekarang ini berapa pun volume bata ringan yang dilempar ke market hampir seluruhnya langsung terserap pasar. Selain karena pembangunan properti semakin menggeliat juga banyaknya konsumen yang beralih dari penggunaan bata merah ke bata silikon tersebut.

Terlebih lagi untuk pasar di Pulau Dewata yang semakin sensitif dengan isyu lingkungan. "Kami perkirakan ada tambahan dua hingga tiga pabrik baru lagi pun masih kurang," ungkap joko dihubungi Bisnis hari ini.

Dia membenarkan beberapa tahun terakhir ini industri bata ringan di Jatim mulai marak. Akan tetapi sebagian besar masih sekala kecil yang kualitas produksinya masih membutuhkan proses edukasi.

Sementara itu pertumbuhan pabrik sekala besar dengan pengembangan teknologi modern masih terbatas. Viccon sendiri, tambahnya, baru memproduksi bata ringan dengan merek Citicon empat tahun lalu.

Rata-rata produksi pabrik di Mojosari itu hanya sekitar 180.000 m3 per tahun. "Itu pun utlisasinya sudah maksimal."

Sementara itu, para pengembang yang memilikki proyek properti di Jatim maupun di wilayah Indonesia Timur tidak memungkinkan mendatangkan material tersebut dari Jawa Barat. Pasalnya ongkos angkutannya relatif mahal. Oleh karena itu, lanjut Joko, untuk memenuhi kebutuhan market harus ada pertumbuhan pabrik baru.

Victor Hartanto Direktur PT Viccon Modern Industry mengatakan dalam waktu dekat perseroannya akan membangun satu line pabrik lagi dengan kapasitas produksi yang lebih besar yakni 200.000 m3 per tahun. Rencananya pabrik dengan investasi sekitar Rp70 miliar itu tetap akan didirikan di daerah Jawa Timur meskipun sebagian besar hasil produksinya untuk memenuihi pasar NTB,NTT, Kalimantan, Sulawesi hingga Papua.

Alasannya cukup sederhana yakni mendekati ketersediaan bahan baku. Menurutnya membangun pabrik bata ringan semacam silikon ini tidak gampang.

Faktor yang paling penting adalah menyangkut ketersedian bahan baku yang cukup serta kemudahan angkutannya. Di Jatim daerah yang dinilai potensial untuk industri tersebut adalah Tuban dan Banyuwangi. SUmber : kabar24.bisnis.com
Read more ...

Bisnis Usaha Batik Pekalongan di Pekanbaru Riau

Bisnis Usaha Batik Pekalongan di Pekanbaru Riau - Kisah hidup pengrajin batik asli Madura, Siti Maimona, merupakan bukti efektifnya format usaha usaha kecil menengah (UKM) menaikkan taraf hidup masyarakat. Dia memulai bisnis batik dengan modal terbatas, pada 1996 hasil berutang ke bank Rp 5 juta.

"Dulu saya kecil-kecilan saja, sebulan omzet cuma Rp 1 juta," ujar Maimona saat acara kunjungan UKM binaan Semen Indonesia di Madura, Jumat (31/5).

Maimona lahir dari keluarga yang sempat berbisnis batik asli Madura, disebut batik jenis Genthongan, sejak 1950-an. Namun, usaha itu sempat berhenti.

Dia pun kepincut melanjutkan usaha keluarga itu lagi selepas melihat batik Pekalongan. Maimona membandingkan batik asal Jawa Tengah itu, dengan tradisi batik Genthongan dari Madura yang tidak kalah bagus.

Perjuangannya berbuah manis. Dengan telaten, bisnis batik yang diberi nama Pesona Batik Madura itu, berkembang sedikit demi sedikit sehingga kini berhasil berkembang pesat. Bahkan, usahanya telah berskala internasional dan menyerap pekerja dari kampung di sekitarnya.

Kini Maimona mempekerjakan 400 karyawan yang tersebar di gerai miliknya yang berada di Jakarta hingga Bali. Sekarang, wanita ini memiliki total 8 gerai menjual Pesona Batik Madura.

"Dengan mempekerjakan 400 karyawan dapat menghasilkan omset penjualan kami hingga Rp 300 juta per bulannya. Dan kita sudah dapat mengekspor ke Jepang sejak 2004," paparnya.

Kain batik Genthongan memiliki corak khas pesisir yang melambangkan kota Madura, biasanya didominasi warna oranye, merah, dan biru muda. Harga batik yang dijual Maimona berkisar Rp 60.000 hingga Rp 9 juta per meternya. Dengan rentang harga tersebut, pihaknya dapat memproduksi 5.000 potong kain per bulan.

"Untuk produksinya sendiri tidak ada kendala bahan baku karena kita mendapatkannya dari Solo. Kebanyakan pelanggan domestik maupun internasional menyukai warna terang dan motif seperti burung, bunga dan pesisir," ungkap Maimona.

Pelanggannya pun mulai dari masyarakat biasa hingga pejabat khusus yang sering memesan produksinya, termasuk Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. "Pak SBY serta isterinya Bu Ani juga pernah pesan sampai dengan selebritis seperti Ayu Azhari," kata dia.

Dalam mempertahankan pangsa pasar usahanya, wanita akrab disapa Mai ini hanya mengandalkan ide kreatifnya untuk mengeluarkan produk terbarunya. Karena itu dia percaya kain yang dia jual memiliki ciri khas.

"Saya sendiri yang mendesain dengan selalu mengkombinasikan motif batik lama dengan baru namun tetap dengan kualitas terbaik agar para pelanggan tidak merasa bosan. Makanyanya setiap bulan kami mengeluarkan motif baru dan itu sedikit produksinya agar limited," katanya.

Selain itu, kunci kesuksesannya, imbuh Maimona, adalah tidak sekadar cari untung. Dia mengatakan, karena sejak awal memberdayakan tetangganya, usaha inipun berkembang.

"Sebagai pengrajin dalam industri UKM jangan hanya patokannya pencari uang atau keuntungan semata. Namun, dapat menyejahterakan perekonomian daerah sekitarnya untuk mengurangi pengangguran khususnya," tandasnya.

Keberhasilan Maimona menarik minat PT Semen Gresik (Persero) Tbk sejak enam tahun lalu untuk membina usahanya. Kini, perempuan ini berharap, dengan bantuan BUMN itu, batik dari kampung halamannya bisa lebih mendunia.

"Selama ini Semen Gresik selalu berperan mempromosikan sektor usaha saya. Mudah-mudahan ke depannya dapat juga mempromosikan di seluruh dunia," kata Maimona berhar
Read more ...

Bisnis Usaha Pot Bunga Pekanbaru Riau

Bisnis Usaha Pot Bunga Pekanbaru Riau - Kerajinan pot bunga yang dijadikan satu dalam sebuah tempat ternyata semakin menarik hingga membentuk seperti perkampungan. Bukan saling bersaing, namun saling mengisi dan membantu jika ada salah satu yang kesulitan. Ya, kerajinan pot bunga, di Desa Kemangsen, Kecamatan Balongbendo adalah lokasi wisata unik yang ada di Kabupaten Sidoarjo.

Kita seperti sedang memasuki perkampungan taman hijau yang asri sebab para pengrajin memajang aneka macam tanaman hias, pot bunga hingga beragam model taman pancuran sebagai etalase produk mereka. Harganya? Pastinya relatif murah.

Untuk satu set pancuran taman, harganya sekitar Rp 1 jutaan, ungkap Arif saat ditemui Ayogitabisa.com sedang membuat pancuran untuk taman.

Selain aneka pot bunga dan pancuran, Kampung Pot Bunga juga menyediakan aneka macam aksesoris taman. Selalu mengikuti tren menjadi prinsip yang dianut para pengrajin. Hingga pot bunga yang dipajang ratusan model, ukuran dan warnanya.

Camat Balongbendo, Dra. Agustin Iriani mengatakan bahwa total penduduk yang bekerja sebagai perajin pot mencapai 70 persen dari 6.654 orang penduduk desa. Atau lebih dari 4650 orang terlibat dalam bisnis pot bunga dan hiasan taman. Camat perempuan itu mengungkapkan industri kerajinan pot di Desa Kemangsen sudah ada sejak puluhan tahun. Bisnis itu makin berkembang saat Indonesia dilanda krisis ekonomi karena perpindahan kekuasaan pada tahun 1998.

Saat ini ada 30 pemilik usaha besar pot bunga di sana. Masing-masing pengusaha itu juga ternyata menyebarkan pabrik pembuatan pot dan hiasan taman di desa dan kecamatan lain di Sidoarjo.

Agustin memperkirakan produk Desa Kemasen bisa mencapai 3.000 pot dan hiasan taman per hari. Hiasan taman yang dimaksud adalah air mancur dan bermacam-macam bentuk patung. Namun, usaha pertama tetap pot bunga. Tren pot bunga yang sedang laris saat ini adalah pot dari semen yang diolah dan dibentuk menyerupai batu abu-abu.

"Hasil kerajinan kami sudah dikirim ke kota-kota di sekitar Sidoarjo hingga luar Jawa. Misalnya, Bali dan Sulawesi. Satu home industri minimal menghasilkan 100 pot," ujarnya.

Dia menghitung omzet bisnis pot dan hiasan taman di desa itu sudah mencapai Rp 40 juta-Rp 50 juta per hari. Jumlah tersebut bisa lebih tinggi, bergantung pesanan.

Namun yang penting, menurut dia, bisnis ini bisa membawa berkah memutar roda perekonomian desa karena melibatkan pekerja dari mulai anak-anak sekolah hingga ibu rumah tangga. Tak jarang kita akan temui, anak-anak sekolah SD sampai SMA yang baru pulang sekolah masih berseragam langsung membantu untuk menggosok pot ataupun membuat arsiran. Begitu juga ibu-ibu rumah tangga. Setelah mengerjakan pekerjaan rumah tangga, ke ba nyak an di antara mereka juga menyambi kerja sebagai kuli gosok.

Berkembangnya industri pot itu, jelas Agustin, berhasil mengurangi angka pengangguran di Desa Kemangsen. Paling tidak, pengangguran di desa tersebut berkurang 30 persen. Dulu, sebelum usaha ini berkembang, banyak penduduk yang nganggur lari ke kota untuk mencari-cari pekerjaan. Tapi, sekarang mereka bisa ikut orang yang punya usaha kerajinan pot. Jika sudah mahir dan punya modal, biasanya mereka buka usaha sendiri.

Ada satu tips penting bagi Anda yang ingin memborong pot dan hiasan taman di Desa Kemangsen. Datanglah berbelanja pada hari Sabtu. Karena pada hari itu biasanya para pengrajin mengobral harga pot bunga, tanaman, atau pancuran karena mereka membutuhkan uang untuk membayar mengaji karyawan yang dibayar mingguan. Sumber : ayogitabisa.com
Read more ...

Inspirasi Bisnis Kertas Pembungkus Nasi Pekanbaru Riau

Inspirasi Bisnis Kertas Pembungkus Nasi Pekanbaru Riau - Kemampuan melihat peluang bisnis menjadi kunci kesuksesan Catur Jatiwaluyo. Menyadari akan kebutuhan kemasan kertas dan plastik makin tinggi di industri kuliner lokal maupun luar negeri, Catur bersama dua rekannya bekerjasama mendirikan perusahaan kemasan bernama PT Paperocks Indonesia.

Dia menduduki posisi direktur di dalam perusahaan ini. Beroperasi sejak 2011 di kawasan industri Newton Technopark, Lippo Cikarang, Paparocks memasok berbagai kemasan plastik dan kertas ke hampir 100 perusahaan di Indonesia.

Beberapa produk yang diproduksi seperti gelas kertas, kertas pembungkus nasi, kotak kertas, mangkuk sup, gelas es krim, tatakan, juga alas makanan. Jika Anda mampir ke restoran cepat saji atau gerai kopi yang menjamur belakangan ini, bisa dipastikan produk-produk seperti ini selalu digunakan.

Beberapa perusahaan besar yang menjadi pelanggan produknya adalah pelaku bisnis kuliner seperti KFC, Nestle, dan Burger King. Ini beberapa contoh merek asing di Indonesia yang membeli produk kemasan dari Paperocks.

Beberapa perusahaan waralaba makanan dan minuman pun ikut menggunakan kemasan miliknya. Misalnya, Kopi Brontoseno dari Kediri. "Di Indonesia hanya perusahaan besar seperti Mc Donald's, Pizza Hut, dan California Fried Chicken (CFC) yang belum menjadi pelanggan kami," ujarnya.

Saat ini komposisi persentase penjualan untuk ekspor dan penjualan di dalam negeri masih relatif sama. Dia bilang, Australia dan Jerman merupakan beberapa negara tujuan ekspor Paperocks. Sistem penjualan ekspornya dengan cara produk dikirim ke distributor di negara tersebut. Lantas distributor itu yang mengurus pengiriman selanjutnya ke perusahaan yang membutuhkan.

Sementara, pembeli yang langsung berhubungan dengan Paperocks adalah beberapa maskapai penerbangan seperti Singapore Airlines dan Etihad Airways. "Kontrol kualitas perusahaan-perusahaan penerbangan itu ketat sekali," kata Catur.

Dia berharap perekonomian Indonesia dan dunia bisa terus membaik. Jika geliat ekonomi terus terjadi dengan ditandai ekspansi usaha perusahaan makanan dan minuman, ini akan menguntungkan perusahaan yang ia jalankan.

Catur optimistis, komposisi persentase ekspor ke depannya dapat tumbuh menjadi 60% dari total penjualan. Gaya hidup masyarakat di negara maju seperti Australia dan Jerman membuat Catur merasa target tersebut cukup beralasan.

Ia mengamati, karakter masyarakat di negara maju mau menggunakan pembungkus kertas setiap kali berbelanja. Berbeda dengan masyarakat di Indonesia yang masih menggunakan pembungkus plastik.

Dari produksi di pabrik seluas 5.000 meter persegi (m²) tersebut, Paperocks mampu mencetak penjualan di pasar domestik sebesar Rp 18 miliar per tahun. "Jika ditambah ekspor, omzet bisa mencapai Rp 40 miliar per tahun," ujarnya.

Permintaan kemasan diperkirakan terus tumbuh. Ini disokong oleh ekspansi waralaba resto di Indonesia. Catur yakin, pertumbuhan penjualan kemasan Paperocks bisa mencapai 40 persen–50 persen per tahun.
Tinggalkan karier

Krisis ekonomi yang melanda Indonesia pada tahun 2008 menjadi titik balik kesuksesan Catur Jatiwaluyo di dunia bisnis. Pasca krisis ekonomi itu, ia bersama dua orang rekannya mendirikan PT Paperocks Indonesia yang fokus menggarap pasar domestik.

Ceritanya bermula ketika Catur diajak Dillon Sutandar dan Philip Sumali untuk bekerjasama mendirikan usaha. Ketika itu, bisnis kemasan milik kedua temannya itu tengah limbung diterpa krisis.

Gara-gara krisis, kedua temannya banyak kehilangan pesanan, baik di pasar ekspor maupun pasar domestik. Lantaran sepi order, pabrik kemasan milik temannya ini tidak jalan. “Teman saya lagi kebingungan, sebab dia punya aset tapi tidak jalan,” kenang Catur.

Saat itu Catur sebenarnya sedang tidak ingin bekerja di tempat lain. Soalnya, posisinya saat itu sudah cukup tinggi dengan jabatan country manager di Detpack, perusahaan kemasan asal Australia. “Pada saat itu saya bilang saya sudah nyaman,” ucap Catur.

Namun, kedua temannya itu terus membujuk dan meyakinkannya untuk ikut mendirikan perusahaan patungan. Terus-terusan didekati, akhirnya hati Catur luluh juga.
Pada 2011, mereka resmi mendirikan perusahaan kemasan makanan bernama PT Paperocks.

“Dan kebetulan juga hampir semua customer saya, yang sudah jadi teman, juga mendukung,” tambah Catur. Saat pertama bergabung, Catur urunan modal sebesar Rp 200 juta. Duit itu dimanfaatkan buat membeli bahan baku.

Sementara, permesinan memanfaatkan mesin milik temannya yang sempat vakum lama karena krisis 1998. Sampai saat ini, Catur memiliki 30 persen saham perusahaan. Sedangkan sisanya dimiliki kedua temannya.

Selain dalam bentuk modal uang, yang banyak disumbang Catur ketika awal mendirikan perusahaan adalah jaringan pelanggan. Dillon sendiri sebenarnya pernah bekerja di Detpack sama seperti Catur.

Namun ketika itu ia fokus menangani ekspor, sehingga tidak memiliki pelanggan di domestik. “Saya yang network-nya ada di lokal,” ucap Catur.

Saat awal berdiri, Catur dan kedua rekannya fokus menggarap pasar dalam negeri. Sebab kondisi ekonomi belum memungkinkan untuk ekspor.

Catur mengaku tidak terlalu mengalami kesulitan dalam melakukan pemasaran. Fokus di pasar domestik, pelan-pelan Catur berhasil meningkatkan pangsa pasar di industri kemasan makanan di dalam negeri.

Ia tak menampik, banyak yang heran dengan kesuksesannya di pasar domestik dalam waktu yang relatif singkat. “Saya ini sudah 11 tahun di industri yang sama, sebenarnya teman-teman sendiri yang bantuin,” ujarnya merendah.

Sukses di bidang pema-saran itu tidak didapat dengan mudah. Catur harus gencar keliling daerah menemui relasi bisnisnya. Bahkan, hingga tahun 2012, ia belum sukses menembus pasar Surabaya. Padahal, Surabaya merupakan pintu masuk pemasaran ke kota-kota lain di Jawa Timur.
Read more ...